Kamis, 23 Juni 2016

Pemain yang Diusir Keluar Lapangan Karena Kentut

Banyak alasan pemain sepakbola diganjar kartu merah dan kuning oleh wasit saat bertanding. Tetapi yang dialami pesepakbola Swedia, Adam Lindin Ljungkvist, agak aneh dan lucu. Adam Lindin diusir wasit karena kentut dengan suara keras saat pertandingan bergulir.

Kejadian ini terjadi saat  tim cadangan Jarna SK bertanding melawan Pershagen SK. Adam Lindin Ljungkvist yang dalam pertandingan itu mengisi posisi bek kiri tiba-tiba mendapat kartu kuning kedua dan menyebabkan dia harus meninggalkan lapangan.

Sang wasit, Dany Kako,  beranggapan bahwa Adam Lindin melakukan provokasi yang disengaja dengan berperilaku tidak sopan. Maka ia merasa bahwa tindakannya wajar. Bahkan di pertandingan lain ia pernah mengganjar kartu kuning pada pemain yang berdiri dan kencing di pinggir lapangan.

Ljungkvist sendiri sangat terkejut, karena kejadian ini merupakan hal yang aneh yang pernah dia alami dalam sepakbola. Dia memang merasakan sakit perut, dan hanya pasrah saat menerima kartu kuning kedua.

Sumber berita: www.theguardian.com

»»  lanjut baca

Selasa, 16 Februari 2016

The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo, salah satu novel klasik yang saya suka. Novel ini merupakan karya Alexandre Dumas yang sangat populer selain The Three Musketeers. Dumas menyelesaikan novel ini pada tahun 1844 dengan bantuan Auguste Maquet, ghostwriter yang berkolaborasi dengannya. 

Novel ini pertama kali dimuat di koran Journal des Debats dalam delapan belas bagian sejak 28 Agustus 1844 sampai Januari 1846. Selain itu Dantes juga menulis drama yang menceritakan kisah The Count of Monte Cristo, yaitu Monte Cristo (1848), Le Comte de Morcerf (1851), dan Villefort (1851). 

Banyak penulis lain yang mengambil inspirasi dari The Count of Monte Cristo. Misalnya Jules Verne yang menulis Mathias Sandorf yang di dedikasikan untuk Alexandre Dumas dan mendasarkan plotnya pada The Count of Monte Cristo. Penulis lain, Lew Wallace menulis Ben Hur yang diinspirasi salah satunya dari The Count of Monte Cristo.

Ide cerita The Count of Monte Cristo sendiri berasal dari kisah dari buku terbitan 1838 yang dikompilasi oleh Jacques Peuchet, petugas arsip polisi Prancis. Peuchet menceritakan seorang pembuat sepatu bernama  Pierre Picaud, yang tinggal di Nimes dan bertunangan dengan seorang wanita kaya. Tiga orang temannya yang iri memfitnahnya dengan mengatakan bahwa Picaud seorang mata-mata Inggris. Akibatnya ia dipenjara selama tujuh tahun.

Saat di penjara dia mendapat warisan harta yang tersembunyi di Milan dari teman satu tahanan yang sangat kaya. Ketika bebas pada 1814, dia mengambil harta itu dan merencanakan balas dendam terhadap teman-teman.

*****

The Count of Monte Cristo menceritakan tentang pelaut muda bernama Edmond Dantes. Saat kembali ke Marseille, Dantes dipromosikan menjadi kapten kapal Pharaon menggantikan Kapten Leclere yang meninggal di perjalanan. Ketika meninggal, Kapten Leclere masih sempat memberikan perintah kepada Dantes agar singgah di pulau Elba (tempat pembuangan Napoleon Bonaparte) untuk memberikan sebuah bungkusan kepada Marsekal Bertrand. Dantes sempat pula bertemu dengan Napoleon dan diminta untuk menyerahkan sebuah surat rahasia kepada seseorang di Paris.

Nasib baik yang dialami Dantes membuat iri orang lain seperti Danglars, yang menjabat sebagai Kepala Tata Usaha dan Caderousse, penjahit miskin yang menjadi tetangga Dantes. Ditambah Fernand Mondego, orang yang menginginkan Mercedes, tunangan Dantes. Mereka bertiga mengirim surat kepada Villefort, jaksa penuntut umum, yang berisi tuduhan bahwa Edmond Dantes adalah seorang Bonapartis dan pengkhianat kerajaan dengan bukti surat rahasia yang ada padanya.

Di hari pernikahan Dantes dijemput paksa dan dihadapkan kepada Villefort. Villefort awalnya bersimpati kepada Dantes, tetapi setelah membaca surat rahasia itu ia langsung berubah pikiran. Ternyata surat itu ditujukan kepada ayahnya sendiri, dan bisa mengancam karir serta kehidupan pribadinya. Akhirnya Villefort membakar surat berbahaya itu dan mengirim Dantes ke penjara.

Selama bertahun-tahun di penjara Dantes sempat berputus asa dan hilang kepercayaannya kepada Tuhan.  Sampai akhirnya dia bertemu dengan tahanan lainnya, Padri Faria. Di dalam tahanan Faria mengajari Dantes berbagai macam ilmu pengetahuan, serta menjelaskan pengkhianatan yang dialami Dantes hingga bisa dijebloskan ke penjara.

Merasa umurnya tidak akan lama lagi, Padri Faria memberitahukan lokasi penyimpanan harta karun di sebuah pulau bernama Monte Cristo. Setelah Padri Faria meninggal dunia, Dantes berhasil menggunakan kesempatan untuk kabur dari penjara. Beberapa bulan kemudian dia berhasil menemukan harta karun tersebut.

Dengan bekal harta yang sangat banyak, Dantes menyusun rencana dengan sangat matang dan rapi untuk balas dendam terhadap orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Dia menyembunyikan identitas aslinya dengan menggunakan gelar The Count of Monte Cristo.

»»  lanjut baca

Kamis, 04 Februari 2016

Membaca Pesan WhatsApp Tanpa Ketahuan Si Pengirim Pesan

Ada berbagai alasan orang tidak mau ketahuan sudah membaca pesan yang diterima ketika berkomunikasi menggunakan aplikasi chat seperti WhatsApp. Seperti diketahui bahwa saat kita mengirim pesan menggunakan WhatsApp, terdapat tanda centang hitam yang menunjukkan pesan kita sudah terkirim, tanda centang hitam dua sudah diterima, dan centang dua berwarna biru sudah dibaca oleh penerima pesan.

Di salah satu artikel di kompas.com terdapat artikel mengenai tips agar pesan WhatsApp yang kita terima bisa dibaca tanpa pengirim pesan tahu bahwa pesannya sudah dibaca. Caranya dengan mengubah mode smartphone ke dalam Airplane Mode sebelum membuka WhatsApp. Maka semua aplikasi akan menjadi offline, namun semua pesan sudah diterima dan tersimpan dalam cache smartphone untuk dibaca. Barangkali caranya sama saja dengan menonaktifkan data internet di smartphone. 

Cara lain adalah dengan menonaktifkan fitur read-receipt atau laporan dibaca. Namun setting ini berlaku dua arah, sehingga kita tidak bisa melihat laporan dibaca dari pesan yang kita kirim. Disamping itu read receipt selalu diaktifkan untuk percakapan di grup.

Sebetulnya ada cara lain yang bisa digunakan, yaitu dengan menambahkan widget WhatsApp yang ada di smartphone.



Dengan menggunakan widget ini, kita bisa membaca semua pesan, termasuk percakapan grup, tanpa harus membuka aplikasi WhatsApp. 

»»  lanjut baca

Senin, 14 Desember 2015

Tukang Celup yang Dihukum Gantung

Alkisah, ada seorang pencuri yang terjatuh dari jendela hingga meninggal saat dia akan mencuri di sebuah rumah. Keluarga si pencuri tidak terima atas kematian kerabatnya. Mereka melapor ke pengadilan agar pemilik rumah tersebut dihukum. Karena hutang nyawa harus dibayar nyawa, pengadilan mengeluarkan keputusan hukuman gantung bagi pemilik rumah.

Tetapi pemilik rumah tidak terima dengan keputusan tersebut. Dia memberi alasan tukang kayulah yang salah karena kerjanya tidak becus hingga mengakibatkan orang jatuh. Maka tukang kayu dipanggil untuk dihukum.

Tukang kayu juga tidak terima saat akan dihukum. Dia menyalahkan seorang perempuan cantik yang memakai baju merah. Perempuan berbaju merah itu berjalan lewat saat dia sedang bekerja membuat jendela. Karena bekerja sambil melirik perempuan itu, dia tidak fokus bekerja hingga hasil pekerjaannya jadi tidak sempurna. Maka pengadilan memutuskan perempuan berbaju merah itu yang bersalah dan harus dihukum.

Saat akan dihukum, perempuan pun itu membantah bahwa dirinya bersalah. Dia malah menyalahkan tukang celup baju. Karena dia memesan untuk dicelup warna hijau pada bajunya, tetapi oleh tukang celup malah dicelup jadi warna merah yang mengakibatkan orang lain jadi terganggu. Ketika dipanggil untuk dimintai keterangan tukang celup tidak bisa membantah karena tidak ada lagi yang bisa disalahkan. Akhirnya tukang celup itu divonis hukuman mati atas kematian si pencuri yang jatuh dari atas rumah.

Saat akan digantung, ternyata si tukang celup tubuhnya tinggi sedangkan tiang gantungannya pendek. Akibatnya si tukang celup susah untuk digantung. Hakim yang marah akhirnya menyuruh untuk mencari tukang celup yang pendek untuk digantung.

»»  lanjut baca

Jumat, 27 November 2015

Pedang Hati Suci / Soh Sim Kiam

Pedang Hati Suci merupakan salah satu diantara lima belas cerita silat karya Chin Yung / Jin Yong. Dibandingkan dengan novel-novel Jin Yong lainnya yang lebih populer, Pedang Hati Suci tidak terlalu panjang. Barangkali hanya seperempatnya dari cerita si Kwee Ceng dan setengahnya dari Medali Wasiat.

Ceritanya tidak jauh dari perebutan sebuah kitab, yaitu kitab rahasia ilmu pedang yang ternyata didalamnya terdapat rahasia tentang harta karun. Dikisahkan seorang pemuda desa yang lugu bernama Tik Hun (Di Yun). Suatu hari dia pergi ke kota bersama guru dan adik seperguruannya untuk memenuhi undangan paman gurunya. Disinilah dia mulai mengalami berbagai macam penderitaan; dijebloskan ke penjara karena difitnah mencuri dan memperkosa gundik paman gurunya, dan mengalami berbagai siksaan, baik dari sipir maupun dari tahanan lain yang curiga kepadanya, yang mengakibatkan tubuhnya cacat dan ilmu silatnya hilang. Diapun kehilangan wanita yang dia cintai karena menikah dengan orang yang memfitnahnya.

Beruntung seorang tahanan yang pernah menyiksa Tik Hun akhirnya hilang rasa curiganya. Dari orang ini, yang bernama Ting Tian, Tik Hun mulai mempelajari ilmu silat yang hebat dan sebuah rahasia yang dicari dan diperebutkan oleh banyak orang, termasuk guru dan kedua paman gurunya.

Tetapi penderitaan Tik Hun tidak berakhir. Setelah Tik Hun dan Ting Tian kabur dari penjara, Ting Tian meninggal karena dibunuh orang. Untuk mengelabui musuh, Tik Hun menyamar dengan menggunduli rambut dan menggunakan pakaian seorang biksu yang baru saja mati. Sialnya, biksu itu merupakan anggota dari Hiat-to-bun (Perkumpulan Golok Berdarah) yang dikenal jahat dan sering memperkosa wanita.  Akibatnya sering timbul kesalahpahaman. Tik Hun dituduh sebagai biksu cabul dan diburu oleh banyak pendekar. 

Dalam pengejaran, Tik Hun dan para pengejarnya sampai di wilayah barat dan terjebak di lembah yang tertutup salju selama berbulan-bulan. Di lembah inilah Tik Hun berhasil menyempurnakan ilmu silatnya, yang menjadi bekal untuk bisa menyelesaikan semua urusan yang harus dia kerjakan, termasuk dalam menuntut balas.

Novel ini menggambarkan ketamakan dan keculasan manusia. Hampir semua karakter manusia yang diceritakan penuh dengan kepalsuan dan saling curiga sehingga jarang sekali ditemui tokoh baik disini. Demi harta karun, murid tega mengeroyok gurunya hingga tewas, anak menjadi korban ambisi ayahnya, dan sesama saudara seperguruan saling berselisih. 

Meski pendek (hanya beberapa ratus halaman), petualangan Tik Hun cukup menarik untuk dikuti. Sebagai pemuda desa yang polos membuat Tik Hun selalu menderita saat bertemu dengan orang-orang yang licik. Tetapi pengalaman dan pertemuannya dengan Ting Tian menjadikan Tik Hun menjadi sosok yang berbeda.

Di beberapa alurnya agak mirip dengan novel Alexandre Dumas yang berjudul The Count of Monte Cristo; tokoh utama difitnah dan dipenjara serta kekasihnya direbut orang, dan di penjara bertemu dengan tahanan yang memberinya peta harta karun. Tampaknya Jin Yong mengambil inspirasi dari sini.

Berbeda dengan novel-novel Jin Yong lainnya, novel ini jarang sekali dibuat film atau serial tv. Berdasarkan keterangan di Wikipedia, tercatat hanya sekali diangkat ke layar lebar (tahun 1980 dengan judul A Deadly Secret) dan dua kali dibuat serial tv (tahun 1989 dan 2004).

»»  lanjut baca