Rabu, 05 Juni 2013

Kitab Taurat “Tertua” di Dunia

Dimanakah Kitab Taurat yang berusia paling tua berada?

Sebuah kitab Taurat yang ditulis diatas lembaran kulit domba tersimpan di perpustakaan Universitas Bologna, Italia dengan diberi label “Gulungan Nomor Dua”. Selama ini kitab suci agama Yahudi tersebut diperkirakan berasal dari adab ke-17. Hal ini berdasarkan dari penelitian salah seorang petugas perpustakaan pada 1889 yang menyimpulkan kitab tersebut berasal dari adab ke-17.

Tetapi penelitian terbaru menyebutkan bahwa lembaran tersebut berusia lebih tua lagi. Seperti yang diberitakan oleh bbc.co.uk, seorang pakar bahasa Ibrani dari Universitas Bologna, Mauro Perani, mengatakan bahwa kitab itu kemungkinan berasal dari abad ke-7. Profesor Perani yang melakukan penelitian ulang menyadari bahwa huruf yang dipakai sama dengan huruf dari tradisi Babilonia dan ia meyakini bahwa usianya pasti sangat tua.


»»  lanjut baca

Rabu, 22 Mei 2013

Situ Aksan

Situ Aksan, Situ Aksan
pelesiran jeung lalayaran
andom suka seuseurian
sempal guyon jeung gogonjakan

(resik tur endah Situ Aksan)

Situ Aksan, Situ Aksan
matak betah mapay tambakan
(pelesiran) dipasieup kekembangan
matak seger nu jalan-jalan

Situ Aksan, Situ Aksan
keur panglipur manah sungkawa
tempat sirna panghalang bimbang
pangbeberah nu nandang lara asmara

situ di Kota Bandung
panundung pikir keur bingung (keur kapahung)
Situ Aksan tempat resmi narik asih
cai ngenclong hejo bersih
mayarna teu sabaraha
nu teu mampuh ge kaduga

Situ Aksan, Situ Aksan
silih kaleng hiji pasangan
tepak toel, gogonjakan
horeng geuning anyar tunangan


Lirik lagu diatas berjudul Situ Aksan yang diciptaan Mang Koko pada tahun 1960-an. Lagu itu menceritakan sebuah tempat rekreasi di Kota Bandung berupa situ (danau) yang dinamai Situ Aksan. Pada zaman Belanda pemerintah Hindia Belanda menamai situ itu dengan nama Westerpark. Tetapi jika sekarang mencari danau bernama Situ Aksan tentu tidak akan ketemu, karena danau itu sudah tidak ada lagi. Yang tinggal hanya namanya saja.

Pada saat itu sampai tahun 1970-an Situ Aksan masih berfungsi sebagai tempat rekreasi masyarakat Bandung. Seperti yang diceritakan dalam lagu diatas, masyarakat Bandung menjadikan Situ Aksan sebagai tempat bermain karena suasananya yang nyaman dan sejuk. Hanya sayang akibat pembangunan hunian makin lama luas Situ Aksan makin mengecil, hingga tahun 1980 Situ Aksan sudah menjadi kolam pemancingan. Dan pada tahun 1990-an situ itu sudah tidak tersisa lagi.

Situ Aksan merupakan salah satu peninggalan Danau Purba Bandung. Dalam sejarah Kota Bandung, konon pada sekitar 6000 tahun lalu wilayah Bandung merupakan sebuah danau besar akibat terbendungnya Sungai Citarum di daerah Padalarang oleh lahar Gunung Tangkuban Parahu yang meletus. Daerah antara Padalarang hingga Cicalengka dan antara Gunung Tangkuban Parahu hingga Soreang terendam air hingga menjadi sebuah danau besar. Air danau itu perlahan surut secara bertahap dalam waktu berabad-abad.



»»  lanjut baca

Kamis, 09 Mei 2013

The Witham Shield



The Witham Shield adalah perisai perunggu yang konon berasal dari abad ke-4 SM. Perisai ini ditemukan di Sungai Witham, dekat desa Washingborough, luar kota Lincoln, Inggris pada tahun 1826.

Saat pertama kali ditemukan perisai ini menggunakan kayu sebagai kerangkanya. Bagian belakangnya dihiasi batu karang dari kawasan Mediterania serta potongan kulit babi hutan. Perisai ini merupakan salah satu contoh terbaik dari seni perhiasan peninggalan perabadan Kelt di Inggris.

Pada 1831 perisai ini dijual kepada seorang kolektor asal London. Setelah itu selama seabad lebih peninggalan bangsa Kelt ini menjadi koleksi British Museum dan merupakan salah satu koleksi terbaik disana.

Namun kini, sebagaimana diberitakan bbc.co.uk, perisai perunggu ini dikembalikan ke Museum Lincolnshire yang merupakan lokasi awal penemuan benda ini. Perisai perunggu ini dipamerkan di Museum Seni dan Arkeologi di Lincolnshire yang akan berlangsung sampai 9 Juni nanti.

»»  lanjut baca

Rabu, 08 Mei 2013

Misteri Soliter



Hans Thomas, seorang anak berusia 12 tahun, bersama ayahnya melakukan perjalanan menuju Yunani untuk mencari ibunya. Di sepanjang perjalanan sang ayah yang pemabuk memancing Hans Thomas berdiskusi dengan pertanyaan-pertanyaan filsafat dan berkisah tentang hal-hal aneh: seperti tentang joker, Socrates, serta Oedipus yang mencoba menghindari takdir. 

Dalam perjalanan terjadi serangkaian peristiwa luar biasa: seorang lelaki cebol memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar dan seorang tukang roti tua memberinya kue berisi buku mungil yang berkisah tentang seorang pelaut yang terdampar di sebuah pulau. Di pulau tersebut, seperangkat kartu remi milik pelaut tiba-tiba bernyawa menjadi manusia cebol dan hidup dalam dunia mereka sendiri. 

Mereka terbagi menjadi 4 golongan dengan karakter yang berbeda: tipe sekop, wajik, hati, dan keriting yang masing-masing berjumlah 13 orang, dari As sampai Raja. Hanya Joker yang berbeda, dia tidak termasuk golongan manapun. Dia bukan Raja, Pangeran, As, juga bukan wajik, keriting, hati, maupun sekop. Tetapi Joker yang kesepian ini merupakan sosok cerdas yang tahu terlalu banyak. Dia sering menghasut dengan menanyai mereka pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa mereka jawab, seperti siapa mereka dan darimana mereka berasal. 

Setiap empat tahun sekali diadakan Permainan Joker. Setiap makhluk cebol itu diajari satu kalimat yang akan diucapkan pada Permainan Joker. Dalam permainan itu Joker mengacak urutan kartu remi dan menempatkan mereka di tempat yang semestinya. Hingga saat seluruh kalimat dibacakan, kalimat tersebut menjadi berarti dan tiap kalimat adalah sepotong kecil dari dongeng yang besar.

Kisah dalam Permainan Joker tersebut menjadi semacam ramalan. Serangkaian peristiwa yang terjadi pada diri Hans Thomas, juga ayahnya, tukang roti, dan pelaut, ternyata sudah ditakdirkan melalui permainan itu. 

Novel Misteri Soliter merupakan salah satu karya Jostein Gaarder favorit saya, selain Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh penerbit Jalasutra pada 2002.



»»  lanjut baca

Kamis, 18 April 2013

Tradisi Lompat Batu Nias


Di Pulau Nias terdapat tradisi yang disebut hombo batu atau fahombo batu. Yaitu tradisi lompat batu setinggi  sekitar 2 meter yang dilakukan oleh para pemuda setempat. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari kemudian menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Tradisi ini cukup populer dan menjadi daya tarik wisatawan untuk berwisata ke Nias.

Tradisi lompat batu sudah dilakukan selama berabad-abad. Awalnya lahir dari kebiasaan berperang antarsuku, dan masing-masing suku membentengi wilayahnya dengan batu atau bambu setinggi 2 meter. Oleh karena itu, latihan lompat batu pun dilakukan sebagai sebuah persiapan sebelum berperang. Kemampuan untuk melompat batu bersusun setinggi 2 meter tanpa menyentuh permukaannya merupakan salah satu syarat bahwa dia pantas menjadi prajurit. 

Seiring berkembangnya zaman tradisi lompat batu tidak lagi dilakukan untuk persiapan berperang, tetapi sebagai ritual dan menjadi simbol budaya orang Nias. Tradisi ini dilakukan oleh pemuda Nias untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dianggap dewasa. Seseorang yang berhasil melakukan tradisi ini akan dianggap matang dan dapat menikah. Sedangkan pemuda yang belum berhasil melompat batu dianggap belum pantas untuk meminang seorang gadis.

Sebetulnya tidak semua wilayah di Nias memiliki tradisi lompat batu. Tradisi lompat batu hanya ada di kampung-kampung tertentu di Nias Selatan. Misalnya di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari) atau di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.


»»  lanjut baca