Selasa, 16 Februari 2016

The Count of Monte Cristo

The Count of Monte Cristo, salah satu novel klasik yang saya suka. Novel ini merupakan karya Alexandre Dumas yang sangat populer selain The Three Musketeers. Dumas menyelesaikan novel ini pada tahun 1844 dengan bantuan Auguste Maquet, ghostwriter yang berkolaborasi dengannya. 

Novel ini pertama kali dimuat di koran Journal des Debats dalam delapan belas bagian sejak 28 Agustus 1844 sampai Januari 1846. Selain itu Dantes juga menulis drama yang menceritakan kisah The Count of Monte Cristo, yaitu Monte Cristo (1848), Le Comte de Morcerf (1851), dan Villefort (1851). 

Banyak penulis lain yang mengambil inspirasi dari The Count of Monte Cristo. Misalnya Jules Verne yang menulis Mathias Sandorf yang di dedikasikan untuk Alexandre Dumas dan mendasarkan plotnya pada The Count of Monte Cristo. Penulis lain, Lew Wallace menulis Ben Hur yang diinspirasi salah satunya dari The Count of Monte Cristo.

Ide cerita The Count of Monte Cristo sendiri berasal dari kisah dari buku terbitan 1838 yang dikompilasi oleh Jacques Peuchet, petugas arsip polisi Prancis. Peuchet menceritakan seorang pembuat sepatu bernama  Pierre Picaud, yang tinggal di Nimes dan bertunangan dengan seorang wanita kaya. Tiga orang temannya yang iri memfitnahnya dengan mengatakan bahwa Picaud seorang mata-mata Inggris. Akibatnya ia dipenjara selama tujuh tahun.

Saat di penjara dia mendapat warisan harta yang tersembunyi di Milan dari teman satu tahanan yang sangat kaya. Ketika bebas pada 1814, dia mengambil harta itu dan merencanakan balas dendam terhadap teman-teman.

*****

The Count of Monte Cristo menceritakan tentang pelaut muda bernama Edmond Dantes. Saat kembali ke Marseille, Dantes dipromosikan menjadi kapten kapal Pharaon menggantikan Kapten Leclere yang meninggal di perjalanan. Ketika meninggal, Kapten Leclere masih sempat memberikan perintah kepada Dantes agar singgah di pulau Elba (tempat pembuangan Napoleon Bonaparte) untuk memberikan sebuah bungkusan kepada Marsekal Bertrand. Dantes sempat pula bertemu dengan Napoleon dan diminta untuk menyerahkan sebuah surat rahasia kepada seseorang di Paris.

Nasib baik yang dialami Dantes membuat iri orang lain seperti Danglars, yang menjabat sebagai Kepala Tata Usaha dan Caderousse, penjahit miskin yang menjadi tetangga Dantes. Ditambah Fernand Mondego, orang yang menginginkan Mercedes, tunangan Dantes. Mereka bertiga mengirim surat kepada Villefort, jaksa penuntut umum, yang berisi tuduhan bahwa Edmond Dantes adalah seorang Bonapartis dan pengkhianat kerajaan dengan bukti surat rahasia yang ada padanya.

Di hari pernikahan Dantes dijemput paksa dan dihadapkan kepada Villefort. Villefort awalnya bersimpati kepada Dantes, tetapi setelah membaca surat rahasia itu ia langsung berubah pikiran. Ternyata surat itu ditujukan kepada ayahnya sendiri, dan bisa mengancam karir serta kehidupan pribadinya. Akhirnya Villefort membakar surat berbahaya itu dan mengirim Dantes ke penjara.

Selama bertahun-tahun di penjara Dantes sempat berputus asa dan hilang kepercayaannya kepada Tuhan.  Sampai akhirnya dia bertemu dengan tahanan lainnya, Padri Faria. Di dalam tahanan Faria mengajari Dantes berbagai macam ilmu pengetahuan, serta menjelaskan pengkhianatan yang dialami Dantes hingga bisa dijebloskan ke penjara.

Merasa umurnya tidak akan lama lagi, Padri Faria memberitahukan lokasi penyimpanan harta karun di sebuah pulau bernama Monte Cristo. Setelah Padri Faria meninggal dunia, Dantes berhasil menggunakan kesempatan untuk kabur dari penjara. Beberapa bulan kemudian dia berhasil menemukan harta karun tersebut.

Dengan bekal harta yang sangat banyak, Dantes menyusun rencana dengan sangat matang dan rapi untuk balas dendam terhadap orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya. Dia menyembunyikan identitas aslinya dengan menggunakan gelar The Count of Monte Cristo.

0 komentar:

Posting Komentar