Kamis, 18 April 2013

Tradisi Lompat Batu Nias


Di Pulau Nias terdapat tradisi yang disebut hombo batu atau fahombo batu. Yaitu tradisi lompat batu setinggi  sekitar 2 meter yang dilakukan oleh para pemuda setempat. Sambil mengenakan pakaian adat, mereka berlari kemudian menginjak batu penopang kecil terlebih dahulu untuk dapat melewati bangunan batu yang tinggi tersebut. Tradisi ini cukup populer dan menjadi daya tarik wisatawan untuk berwisata ke Nias.

Tradisi lompat batu sudah dilakukan selama berabad-abad. Awalnya lahir dari kebiasaan berperang antarsuku, dan masing-masing suku membentengi wilayahnya dengan batu atau bambu setinggi 2 meter. Oleh karena itu, latihan lompat batu pun dilakukan sebagai sebuah persiapan sebelum berperang. Kemampuan untuk melompat batu bersusun setinggi 2 meter tanpa menyentuh permukaannya merupakan salah satu syarat bahwa dia pantas menjadi prajurit. 

Seiring berkembangnya zaman tradisi lompat batu tidak lagi dilakukan untuk persiapan berperang, tetapi sebagai ritual dan menjadi simbol budaya orang Nias. Tradisi ini dilakukan oleh pemuda Nias untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dianggap dewasa. Seseorang yang berhasil melakukan tradisi ini akan dianggap matang dan dapat menikah. Sedangkan pemuda yang belum berhasil melompat batu dianggap belum pantas untuk meminang seorang gadis.

Sebetulnya tidak semua wilayah di Nias memiliki tradisi lompat batu. Tradisi lompat batu hanya ada di kampung-kampung tertentu di Nias Selatan. Misalnya di Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari) atau di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara.


0 komentar:

Posting Komentar