Sabtu, 02 Februari 2013

Dongeng Enteng ti Pasantren

dongeng enteng ti pasantren
Dongeng Enteng ti Pasantren adalah novel pendek berbahasa Sunda karangan (alm) RAF (Rahmatullah Ading Affandi), pertama kali terbit pada tahun 1961 oleh penerbit Tarate Bandung. Buku ini merupakan salah satu karya RAF yang populer selain Bentang Lapang. Selain kedua novel tersebut, RAF juga menghasilkan beberapa karya sastra Sunda lainnya serta naskah sinetron yang pernah populer di TVRI Bandung; Inohong di Bojong Rangkong.

Buku ini bercerita tentang pengalaman seorang anak yang masantren selama dua tahun di sebuah pesantren kecil di Tasikmalaya pada zaman pendudukan Jepang. Ketika itu, setelah Belanda kalah oleh Jepang, banyak sekolah yang ditutup sehingga anak sekolah terpaksa tinggal di rumah. Tetapi ada diantaranya yang pindah belajar ke pesantren.

Banyak kisah lucu dan menarik yang diceritakan RAF dalam buku ini, mulai dari penggambaran sosok ajengan (kiai) dan keluarganya, suasana pesantren yang berada di pedesaan, kehidupan santri, hingga persoalan keagamaan sehari-hari dan kritikan terhadap pelaku agama, yang diceritakan dengan kisah-kisah yang ringan. Cerita-ceritanya sangat sederhana, penuh lelucon, dan kadang diselingi dengan istilah-istilah dari bahasa Arab. Tema-tema moral dan keagamaan banyak muncul dalam cerita, tetapi tanpa ada kesan menggurui.

Pesantren yang diceritakan disini merupakan pesantren tradisional, dengan sistem belajar yang berbeda dengan sekolah modern. Disini tidak ada kelas dan ujian, tetapi belajar berdasarkan kemauan sendiri. Jeleknya sistem ini adalah jika ada santri yang malas, sampai ada yang sudah masantren selama tiga tahun tetapi belajar Quran belum pernah tamat.

Hubungan antara santri dan kiai dalam novel ini tidaklah kaku, meski santri tetap menghormati gurunya. Ajengan juga digambarkan sebagai manusia biasa, bukan sosok sempurna. Demikian pula para santri, banyak diceritakan kenakalan santri. Adakalanya ustadz atau santri memiliki sikap yang bertolak belakang dengan apa yang dia ucapkan. Seperti dalam bab Elmu Ajug, salah seorang ustadz memberikan ceramah tentang larangan makan berlebihan ketika berbuka puasa. Tetapi pada malam harinya ustadz tersebut jatuh sakit, dan setelah diperiksa ternyata sakitnya karena dia kamerekaan atau kebanyakan makan. Atau dalam bab Ngupat, para santri dan ajengan berkumpul sambil membahas larangan ghibah, yaitu menceritakan kejelekan orang lain. Tetapi tanpa disadari mereka malah melakukan hal tersebut.

Buku Dongeng Enteng ti Pasantren merupakan buku lama, sehingga mungkin akan sulit dicari. Sekitar sepuluh tahun lalu saya pernah lihat buku ini di toko buku, dengan jumlah bab yang lebih banyak. Kemungkinan buku tersebut berjudul 40 Dongeng Enteng ti Pasantren. Semoga di perpustakaan-perpustakaan, buku ini masih ada dalam daftar koleksinya.


1 komentar:

abu joise mengatakan...

artikel yang bermanfaat sekali..
just : Blogwalking

Posting Komentar