Selasa, 08 Januari 2013

Novel Dwilogi Padang Bulan


Di kampungnya, catur milik kaum lelaki. Tak pernah ada sebelumnya perempuan main catur, apalagi bertanding melawan lelaki. Dalam kaitannya dengan catur, perempuan hanya menghidangkan kopi saat suami main catur bersama kawannya. Tetapi tiba-tiba Maryamah ingin belajar catur dan ikut dalam pertandingan catur 17 Agustus. Dia bermaksud melawan Matarom, mantan suaminya, yang selalu menjadi juara catur. Tujuannya untuk membalas dendam terhadap mantan suami yang pernah menyakitinya, dengan mengalahkannya diatas papan catur hingga turun martabatnya.

Dengan bantuan Ikal dan kawan-kawannya, serta seorang Grand Master wanita yang tinggal di Eropa, Ninochka Stronovsky, yang mengajarinya secara tidak langsung, Maryamah bisa ikut ambil bagian dalam kejuaraan catur tahunan dalam memperingati kemerdekaan 17 Agustus. Dia menjadi satu-satunya peserta perempuan. Satu per satu lawan dia hadapi, hingga mampu mencapai babak final. Hingga akhirnya kesempatan itu datang juga, berhadapan dengan Matarom yang sudah menunggunya di final.

Kisah Maryamah dalam usahanya mempermalukan mantan suaminya di atas papan catur merupakan salah satu bagian cerita dalam novel dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Novel dwilogi ini adalah buku kelima Andrea Hirata yang terbit pada tahun 2010. Sebelumnya Andrea menerbitkan novel tetraloginya; Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Sejujurnya saya belum pernah menamatkan keempat novel tersebut, hanya pernah membaca sekilas Laskar Pelangi dan Maryamah Karpov.

Dalam novel keempatnya Andrea tidak banyak menyebut nama Maryamah, meski bukunya diberi judul Maryamah Karpov. Di Padang Bulan lah, Maryamah lebih banyak diceritakan. Dari mulai masa kecil saat ia terpaksa harus menjadi pendulang timah, tekadnya untuk belajar bahasa Inggris, sampai menjadi jago main catur. Teknik permainannya yang mirip dengan Grand Master Anatoly Karpov, membuatnya  kemudian dijuluki Maryamah Karpov. 

Kehidupan Maryamah atau Enong penuh inspiratif. Dia tak pernah berputus asa meski kehidupannya begitu pahit. Mimpinya sejak kecil adalah bisa menguasai bahasa Inggris. Dengan segala keterbatasan yang dia miliki, dia terus belajar menghapal kata-kata dalam bahasa Inggris. Hingga di usianya yang tak muda lagi, dia tidak malu untuk mengikuti kursus bahasa Inggris demi mewujudkan cita-citanya.

Namun ada yang membuat saya sedikit bingung. Sosok Maryamah dalam Padang Bulan sepertinya berbeda dengan Maryamah di novel Maryamah Karpov. Misalnya, di Maryamah Karpov oleh Ikal dipanggil mak cik, sedangkan di Padang Bulan dipanggil kakak, dan tak pernah disebut kalau Maryamah memiliki anak. Maka saya anggap, dwilogi Padang Bulan merupakan cerita yang mandiri, bukan lanjutan dari novel-novel Andrea Hirata sebelumnya.

Selain tentang Maryamah, Padang Bulan juga bercerita tentang Ikal dalam usahanya “merebut” kembali pacarnya, A Ling, yang menurut kabar burung akan dikawinkan dengan orang lain. Dia dibantu oleh sahabatnya, detektif M. Nur dan Jose Rizal, burung yang pintar mengirim pesan. Banyak kegilaan dan kekonyolan yang mereka lakukan, yang bisa membuat pembaca buku ini tak dapat menahan tawa.

0 komentar:

Posting Komentar