Jumat, 14 Desember 2012

Nyanggrah


Nyanggrah (kata dalam bahasa Sunda) berasal dari kata sanggrah yang berarti memiliki untuk sementara waktu. Atau bisa juga berarti “singgah”. Kata dari sanggrah yang masih digunakan sekarang adalah pasanggrahan, yang berarti tempat beristirahat atau menginap sementara ketika dalam perjalanan.

Dalam masyarakat Sunda abad ke-19, khususnya di kalangan ménak, dikenal dengan kebiasaan yang disebut dengan nyanggrah. Pada masa itu bupati memiliki “hak istimewa” untuk meminta apapun yang menjadi milik bawahan atau rakyatnya. Para bawahan atau rakyat yang memiliki sesuatu dan diminati oleh bupati, tidak bisa menolak ketika bupati menginginkan barang miliknya. Meski dalam permintaannya bupati meminta secara halus, tidak bicara terus terang. Jika bupati menunjukkan minat terhadap sesuatu dengan bertanya siapa yang memilikinya, maka bawahan atau rakyat mengerti bahwa bupati menginginkan barang tersebut dengan berkata bahwa itu milik bupati. Dan selanjutnya, barang tersebut dibawa ke ibu kota sambil mengantar bupati pulang.

Barang yang diminta tentu bukan barang biasa, tetapi barang istimewa. Seperti kuda, atau bahkan wanita. Jika ada wanita yang diminati bupati, dia dan orang tuanya tidak bisa menolak meski nantinya akan dijadikan selir. Jangankan berani menolak, bisa jadi malah senang atau bangga. Karena dengan menjadi selir bupati, status sosialnya akan berubah, meningkat jadi golongan ménak.  Demikian pula kehidupan orang tuanya akan terjamin.

Sikap bupati tersebut biasanya dilakukan ketika masanggrahan saat melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang berada di wilayah kekuasaannya, dengan  ditemani lurah setempat. Karena itu kebiasaan tersebut disebut nyanggrah. Nyanggrah bisa disebut menjadi gaya hidup bupati masa itu.

Tradisi nyanggrah menunjukkan besarnya kekuasaan dan pengaruh bupati terhadap rakyatnya, yang diikat dengan budaya feodal masa itu. Rakyat hanya patuh kepada bupati, meski keduanya ada dibawah kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. 

0 komentar:

Posting Komentar