Selasa, 20 November 2012

K.F. HOLLE (1829-1896)


Dalam sejarah kolonial, tidak banyak orang Belanda yang memiliki perhatian yang besar terhadap penduduk pribumi, baik adat istiadatnya, bahasanya, serta budayanya. Diantara orang yang sedikit itu, K.F. Holle termasuk diantaranya. Menurut beberapa sumber, ia sangat mendalami terhadap kebudayaan, pertanian, pendidikan bahkan sejarah pribumi, terutama  Sunda. Ia dipuji karena sebagai orang Belanda yang tinggal di wilayah jajahan memiliki kepedulian yang sangat besar terhadap penduduk pribumi. Meskipun demikian, sebagaimana terdapat dalam sumber lain, ternyata dalam aspek lain ia memiliki pandangan yang berbeda terhadap kehidupan keagamaan orang pribumi, yang mayoritas beragama Islam. Ia seakan-akan menghalangi terjadinya fanatisme dalam beragama dikalangan penduduk pribumi.

Holle, yang bernama lengkap Karel Frederik Holle, lahir di Amsterdam pada tahun 1829 dan meninggal di Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1896. Dalam usia empat belas tahun, bersama kedua orang tuanya ia datang ke Hindia Belanda dan pada tahun 1846 menjadi pegawai kantor pemerintah. Pada tahun 1856 ia meninggalkan jabatan ini untuk mengelola perkebunan teh. Holle membuka perkebunan teh Waspada Garut dan menjadi administratur perkebunan tersebut sampai dengan meninggalnya. Karena pengetahuannya yang luas terhadap pribumi, pada tahun 1871 Holle diangkat sebagai Penasihat Honorer untuk Urusan Pribumi.

Holle telah mengembangkan pengetahuan yang menakjubkan di berbagai bidang meski tanpa pendidikan formal. Ia dipandang ahli di bidang linguistik karena pengetahuannya tentang bahasa Melayu, Sunda, dan bahasa Jawa. Ia juga menjadikan perkebunannya semacam perkebunan eksperimental, untuk meneliti berbagai segi pertanian seperti tentang pencetakan sawah kering di tempat-tempat yang tinggi untuk menanam sayur mayur, dan cara pengembangan ikan di kolam-kolam kecil. 

Banyak pujian yang diarahkan kepadanya, karena keistimewaannya dalam berbagai hal. Sebagaimana yang disebutkan diatas, ia sangat mendalami kebudayaan dan adat istiadat masyarakat. Selain itu ia berjasa kepada penduduk pribumi, baik dalam bidang pendidikan maupun pertanian. Di bidang pendidikan, Holle memberi kesempatan kepada bangsa pribumi untuk belajar di bangku sekolah. Ia pun mendirikan Kweekschool voor Onderwijzers op Inlandsche Schoolen (Sekolah Pendidikan Guru untuk Pribumi). Jasa Holle di bidang pendidikan tergambar dalam guguritan dalam pupuh kinanti yang disampaikan oleh rampak sekar murid-murid sekolah Sunda, ketika peresmian Tugu K.F. Holle di Alun-alun Garut pada tahun 1899, sebagai berikut:

Malah abdi mantri guru,
Dikukut basa keur leutik,
Dilebetkeun kasakola,
Saban sasih nampi gajih,
Pasihan ti Kangjeng Holla,
Abdi nuhun laksa keti.

Dalam bidang pertanian Holle juga berjasa dalam mendidik petani pribumi dalam cara bercocok tanam. Ia memperkenalkan sistem terasering dan menerbitkan buku petunjuk pertanian Mitra Noe Tani (Sahabat Petani). Buku ini menyebar ke seluruh tanah priangan. Bahkan Bupati Sumedang, Pangeran Aria Soeria Atmadja atau Pangeran Mekah (1851-1921), ketika melakukan pertanian di daerahnya, mendidik rakyatnya antara lain dengan memberikan buku petunjuk Mitra Noe Tani yang ditulis oleh Holle. Atas jasa-jasanya terhadap kaum tani, setelah meninggal dunia didirikan Tugu Peringatan “K.F. Holle de Vriend van den Land Man” di alun-alun depan Pendopo Kabupaten Garut pada tahun 1899. Hanya sayangnya Tugu Peringatan tersebut dimusnahkan waktu pendudukan Jepang.

Selain itu dalam bidang budaya dan sastra Holle banyak mempelajari sastra, tulisan, dan bahasa Sunda, disamping Melayu, Arab, India, dan lainnya. Bahkan dalam berbahasa Sunda disebutkan bahwa ia bicara Sunda lebih baik dari orang Sunda sendiri. Ia dianggap sebagai orang Belanda pertama yang mengusahakan penerbitan buku-buku Sunda. Pada tahun 1851 ia menerbitkan buku Tjarita Koera-Koera djeung Monjet yang dia tulis bersama saudaranya, Adriaan Holle.

Pada 1861 K.F. Holle ditugaskan oleh pemerintah untuk menyusun buku-buku bacaan serta pelajaran bahasa Sunda. Untuk menggarap proyek itu, pemerintah mengeluarkan biaya sebesar f. 1.200. Holle dibantu oleh R.H. Moehamad Moesa beserta para penulis dari lingkungan Holle, terutama yang tinggal di sekitar distrik Limbangan. Di antaranya Moesa sendiri, Adi Widjaja patih limbangan, dan Brata Widjaja mantan patih Galuh, Kabupaten Sukapura.

Hasil dari proyek ini berjumlah 13 judul buku. Tetapi sebagian besar buku-buku bacaan itu disusun oleh Moesa. Di antara buku-buku hasil pekerjaan itu antara lain: Katrangan tina Perkawis Mijara Laoek Tjai (Moehamad Oemar), Wawatjan Djaka Miskin (Wira Tanoe Baija), Wawatjan Woelang Poetra (Adi Widjaja), Wawatjan Woelang Krama (Moehamad Moesa), dan Wawatjan Radja Darma (Danoe Koesoema). Holle juga mengawasi sekitar 23 judul buku berbahasa Sunda untuk sekolah yang diterbitkan oleh pemerintah.

Holle juga ahli dalam bidang sejarah. Hal ini terlihat dari karya dan penelitiannya yang sering dijadikan acuan oleh para peneliti, antara lain penelitian dan penerjemahan naskah Amanat dari Galunggung yang ditulis dalam bahasa dan huruf Sunda Kuno. 

Sebagaimana disebutkan dalam awal tulisan ini, meskipun banyak berjasa terhadap penduduk pribumi, dalam masalah keagamaan yang dianut oleh penduduk pribumi Holle memiliki pandangan yang lain. Tentu saja ia menghargai agama yang dianut oleh pribumi. Tetapi masalahnya lain ketika dihubungkan dengan masalah politik. Holle berupaya menahan meningkatnya peran sosial dan politik Islam. Ia memperingatkan adanya fanatisme dikalangan para bupati dan fungsionaris agama (para penghulu). Ia menganggap para haji dan guru-guru agama adalah bahaya terbesar yang dimiliki oleh Islam. Diantara mereka, menurut Holle, yang paling berbahaya adalah para penyebar persaudaraan Islam yang dikenal dengan nama tarekat. 

Referensi:
Wajah Bandoeng Tempo Doeloe oleh Haryoto Kunto. 
Kawan dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia (1596-1942) oleh Karel Steenbrink
Pikiran Rakyat edisi 17 Juni 2001

0 komentar:

Posting Komentar