Selasa, 29 Mei 2012

Tatanan Kehidupan Masyarakat Sunda dalam Amanat Galunggung dan Sanghyang Siksakandang Karesian

Amanat Galunggung
Naskah Amanat Galunggung atau disebut juga Naskah Ciburuy berisi amanat Prabu Guru Darmasiksa. Prabu Guru Darmasiksa (1175-1297 M), seorang raja di Saunggalah II (daerah Mangunreja di kaki gunung Galunggung Tasikmalaya) adalah tokoh yang meletakkan dasar-dasar pandangan hidup secara tertulis berupa nasehat. Didalam amanat ini tersirat secara lengkap apa visi hidup yang harus dijadikan pegangan masyarakat dan menjadi citra jatidiri masyarakat sunda.

Nasehat tersebut paling tidak dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu amanat yang berisi pegangan hidup, amanat yang berisi larangan terhadap perilaku negatif yang ditandai dengan kata penafian “ulah” (jangan), amanat yang bersifat perilaku positif yang ditandai dengan kata “kudu” (harus), dan amanat yang berisi kandungan nilai. Selain itu amanat-amanat tersebut dapat diklasifikasikan kepada pranata-pranata sosial, budaya, agama, serta politik.

Ajaran-ajaran dalam Amanat Galunggung menunjukkan bahwa nilai-nilai kehidupan dalam masyarakat Sunda pada masa itu tidak jauh berbeda dengan masyarakat sekarang. Seperti larangan untuk berjodoh dengan saudara, padahal di tempat lain perkawinan antar saudara sering dilakukan diantara anak-anak raja karena tradisi. Misalnya saja di Mesir Kleopatra pernah menikah dengan adiknya.

Selain itu perbuatan yang dianggap tercela antara lain: merasa diri paling benar dan jujur, membunuh yang tidak berdosa, merampas hak orang lain, menyakiti orang yang tidak bersalah, saling curiga, tidak berbakti kepada leluhur (kabuyutan), berebut kedudukan, berebut penghasilan dan hadiah, berkata berteriak, berkata menyindir-nyindir, menjelekkan sesama orang dan berbicara mengada-ada. Karater yang negatif membawa kesengsaraan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Menurut ajaran ini orang yang masuk akedalam neraka itu ada dalam tiga gelombang, berupa manusia yang pemalas, keras kepala, pandir/bodoh, pemenung, pemalu, mudah tersinggung, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian/pengecut, mudah kecewa, keterlaluan/luar dari kebiasaan, selalau berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya padangan omongan orang lain, tidak teguh memegang amanat, mengesalkan, aib dan nista.

Adapun perilaku positif yang diperintahkan dalam Amanat Galunggung antara lain: harus waspada dengan kemungkinan direbutnya kemulyaan dari orang lain, kebenaran bukan untuk diperdebatkan tetapi untuk diaktualisasikan, mempertahankan eksistensi tanah air agar tidak dikuasai oleh orang asing, hidup harus tunduk kepada aturan, harus rendah hati, serta menegakkan agama dan sebagainya. Orang harus produktif dan tidak konsumtif, pro aktif, beretos kerja tinggi serta mempunyai kepribadian dan berkarakater yang positif. Perbuatan tercela adalah orang pemalas tetapi banyak yang diinginkannya dan selalu meminta dikasihani orang lain. Orang pemalas diibaratkan seperti air di daun talas, plin-plan namanya. Jadi dia disebut manusia pengiri melihat keutamaan orang lain.

Sanghyang Siksakandang Karesian

Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian selesai ditulis pada bulan 3 tahun 1440 Saka atau sama dengan tahun 1518 Masehi. Dalam jurnal ilmiahnya (TBG) tahun 1867, K.F. Holle menyatakan kekagumannya akan nilai naskah tersebut.

Sanghyang Siksakandang Karesian merupakan kitab yang mengajarkan ilmu tentang kesejahteraan hidup. Kata “karesian” tidak dimaksud sebagai kependetaan, karena isinya tidak mengandung ajaran untuk calon resi. Bahkan ditujukan kepada orang banyak sebagai pegangan dalam mengarungi kehidupan. Karena tidak hanya ditujukan kepada sebagian kecil orang (resi, raja, dan sebagainya), maka dapat diketahui bagaimana pandangan hidup masyarakat pada masa itu.

Pada masa itu dikenal istilah sasanakreta yaitu ajaran atau peraturan mengenai kesejahteraan (negara, manusia, dunia). Agar hidup sejahtera, seperti bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman dan belakang rumah, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara, panjang umur, sumbernya terletak pada orang banyak (rakyat).

Selain itu dikenal istilah dasaindria (sepuluh indra). Dasaindria ini terbagi kedalam dua kelompok, yaitu pancabudi indria dan pancakarma indria. Pancabudi indria terdiri atas alat pendengaran (telinga), alat peraba (kulit), alat pelihat (mata), alat pengecap (lidah), dan alat pencium (hidung), sedangkan pancakarma indria terdiri atas perbuatan mulut, perbuatan tangan, perbuatan kaki, perbuatan pelepasan, dan perbuatan kelamin.

Untuk mencapai kesejahteraan orang harus menggunakan dasaindria secara benar, artinya tidak menjadikan kesepuluh anggota badan tersebut untuk melakukan perbuatan tercela. Seperti telinga tidak digunakan untuk mendengarkan apa-apa yang tidak pantas didengar, mata tidak melihat apa-apa yang tidak pantas dilihat, dan seterusnya. Jika menggunakan kesepuluh anggota badan tersebut secara benar, maka akan diperoleh keutamaan dari tiap anggota badan tersebut. Dalam istilahnya disebut dasakreta (sepuluh kesejahteraan). Sedangkan cara penggunaan dasaindria secara benar dan tepat disebut dengan dasamarga (sepuluh jalan). Dosa yang disebabkan oleh kesalahan penggunaan dasaindria disebut dengan dasakalesa (sepuluh noda). Bila terpelihara dari dasakalesa sempurnalah amal orang banyak.

Ada sepuluh tingkat kesetiaan yang disebut dasaprebakti, yaitu anak berbakti kepada bapak, istri berbakti kepada suami, hamba berbakti kepada majikan, petani berbakti kepada wado (prajurit yang memimpin pasukan petani/perbekalan waktu perang), wado berbakti kepada mantri, mantri berbakti kepada nu nangganan (komandan pasukan), nu nangganan berbakti kepada mangkubumi, mangkubumi berbakti kepada raja, raja berbakti kepada dewata, dan dewata berbakti kepada hyang. Jika sepuluh tingkat kesetiaan tersebut dilaksanakan secara benar akan mendatangkan kedamaian dan kesentosaan hidup.

Bagi hamba (bawahan) hendaklah takut, segan, hormat, khidmat dalam tingkah laku, perbuatan dan perkataan. Bila sungguh-sungguh melaksanakan tugas sebagai hamba, maka yang demikian itu dianggap lebih memadai.

Dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, seseorang dilarang untuk berjalan mengiringi semua gadis larangan, gadis hulanjar (gadis yang ditinggal mati tunangan). Jika terjadi demikian maka disebut dengan zina perjalanan. Jika berpegangan tangan, bersama-sama duduk berdua maka disebut zina tempat duduk. Jika berdiri di belakang atau halaman rumah maka disebut zina pelataran. Perbuatan yang demikian harus dihindari luput dari neraka.

Seseorang dilarang untuk buang air besar di tepi jalan atau disamping rumah di tempat yang terang. Buang air besar harus tujuh langkah dari jalan, sedangkan kencing harus tiga langkah dari jalan. Sedangkan dalam masalah mandi, laki-laki dan perempuan harus terpisah.

Mengenai masalah warisan, tidak semua kekayaan dapat diwariskan kepada anak cucu. Yang tidak layak diwariskan disebut makanan raksasa, yaitu hasil judi, hasil usaha tukar perhiasan.

Tiga ketentuan di dunia adalah kesentosaan ibarat raja, ucapan ibarat sang rama, dan perbuatan ibarat resi. Yang demikian disebut tri tangtu, peneguh dunia. Sedangkan tri warga di lamba (tiga golongan dalam kehidupan) adalah Wisnu ibarat prabu, Brahma ibarat rama, dan Isora ibarat resi. Tri tangtu menjadi peneguh dunia sedangkan tri warga menjadi kehidupan di dunia.

Jika pendeta teguh dalam kependetaannya akan sejahtera. Demikian pula jika wiku teguh dalam kewikuannya, manguyu (ahli gamelan) teguh dalam kemanguyuannya, paliken (senirupawan) teguh dalam kepalikenannya, bila petani teguh dalam kepetaniannya, dan sebagainya. Demikianlah, jika pendeta dan raja sungguh-sungguh dalam menyejahterakan negara maka sejahteralah di utara, selatan, barat, dan timur, semua makhluk hidup sentosa.

Kegunaan manusia didunia adalah ngangka, nyingi, ngiket, nyigong, ngaruang, ngarombo. Ngaruang berarti merindukan cita-cita; nyigi berarti untaian; ngiket berarti segala jenis pekerjaan mengikat; nyigong berarti meluruskan, membelah, membagi dua, meratakan; ngaruang berarti segala macam kerja menggali; ngarombong berarti segala jenis pekerjaan memenggal-menggal (memberi batas). Yang demikian disebut sad guna (enam kegunaan).


Referensi:
Sanghang Siksa Kanda ng Karesian (Naskah Sunda Kuno Tahun 1518 Masehi) oleh Atja, Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat (1981)
Amanat Galunggung Prabuguru Darmasiksa Luluhur Sunda oleh Hidayat Suryalaga

2 komentar:

ogisay mengatakan...

hatur nuhun ah kanggo artikelna. mangga diantos kunjungan na ka :asda 1st order discount 2012
http://www.offermyoffer.com/vouchers/detail/asda.com/244907

ujang darsita mengatakan...

hadeuh,...meni leres pisan,...mudah-mudahan abdi di paparin hidayah,atanapi tuntunan,supados wejangan teh tiasa ku abdi di jalankeun,....amiin

Posting Komentar