Kamis, 19 April 2012

Priangan

Nama Priangan (Preanger dalam bahasa Belanda) identik dengan daerah-daerah Sunda di Jawa Barat seperti Bandung, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, dan Cianjur.

Kata priangan berasal dari kata parahyangan, yaitu “daerah yang menjadi tempat tinggal tuhan atau dewa (hyang) yang harus dihormati” atau “daerah yang menjadi tempat tinggal leluhur yang harus dihormati”. Pada akhir abad ke-16 kata ini muncul menjadi judul sebuah naskah yaitu Carita Parahyangan. Carita Parahyangan menceritakan tentang sejarah kerajaan Sunda, seperti daftar raja Sunda berikut lama masa pemerintahannya, juga peristiwa dan masalah yang muncul pada masa pemerintahan tiap Raja Sunda. Naskah ini juga bercerita tentang kemunduran kerajaan Sunda serta masuknya pengaruh Islam ke wilayah kerajaan.

Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa kata priangan berasal dari kata prayangan, yang berarti ”menyerah dengan hati yang tulus”. Pengertian ini dikaitkan pada peristiwa menyerahnya Pangeran Suriadiwangsa (Raja Sumedanglarang) kepada Sultan Agung Mataram pada tahun 1620. Sejak itu Priangan dijadikan sebagai nama wilayah geografis di wilayah Sunda dan terus digunakan pada periode-periode berikutnya.

Saat Pulau Jawa dikuasai oleh Pemerintahan Inggris pimpinan Thomas Stamford Raffles (1811–1816), nama Priangan resmi menjadi nama karesidenan pada tahun 1815. Keresidenan Priangan saat itu meliputi lima kabupaten, yaitu Cianjur, Bandung, Sumedang, Sukapura, dan Parakanmuncang. 

Setelah kemerdekaan, Keresidenan Priangan meliputi lima kabupaten dan satu kotapraja, yaitu Kabupaten Bandung, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan Kotapraja Bandung. Sejak tahun 1964 status keresidenan dihapus dan diganti dengan istilah Wilayah. Saat itu Provinsi Jawa Barat terdiri atas lima wilayah, salah satunya adalah Wilayah V Priangan.

dari berbagai sumber

1 komentar:

Parahyangan Carita mengatakan...

ijin nyimak dulu gan :D

Posting Komentar