Senin, 05 Maret 2012

Golok Pembunuh Naga dan Pedang Langit

golok pembunuh nagaBuku Golok Pembunuh Naga dan Pedang Langit terbitan penerbit Marwin tahun 1995 terdiri dari 7 jilid, setebal kurang lebih 288 halaman tiap jilidnya. Diterjemahkan oleh OKT dari judul asli I Thian To Liong, salah satu karya Chin Yung. Buku cerita silat (cersil) ini sudah lama menghiasi koleksi bukuku, dan saya dapat secara kebetulan. Waktu itu saat jalan-jalan di toko buku, tiba-tiba saya lihat ada 3 jilid buku yang mengingatkan pada serial silat tv yang pernah populer, To Liong To, yang jadi favorit saya dulu. Tanpa pikir panjang langsung saya beli buku itu, apalagi harganya sangat murah, cuma Rp. 5000 per jilid. Sayangnya, buku ini tidak lengkap karena hanya ada tiga jilid, sedangkan empat jilid lainnya tidak saya temui.

Lama saya cari lanjutan kisahnya, yang saya dapati buku versi lain, yaitu buku saduran Gan KL dengan judul To Liong To, Golok Pembunuh Naga (Jayanya Bu Tong Pay). Buku terbitan Elex Media Komputindo ini diterbitkan sekitar tahun 2005-2006. Berbeda dengan buku terjemahan OKT, buku Gan KL ini lebih kecil dan lebih banyak jilidnya, tetapi sepertinya ceritanya tidak selengkap buku terjemahannya OKT. Selain buku fisik, saya juga cari serial ini di internet, yang akhirnya saya temui di beberapa website yang menyediakan bacaan-bacaan cersil. Bisa dibilang, melalui serial ini akhirnya saya jadi sedikit mengenal karya-karya cersil lainnya, serta penulis cersil lain selain Chin Yung.

Golok Pembunuh Naga merupakan buku terakhir dari trilogi Rajawalinya Chin Yung setelah Pendekar Pemanah Rajawali (Sia Tiauw Eng Hiong) dan Kembalinya Pendekar Rajawali (Sin Tiauw Hiap Lu). Tetapi berbeda dengan dua buku sebelumnya, buku ketiga ini setting waktunya terpaut sekitar 100 tahun sehingga ceritanya tidak banyak berkaitan langsung.

Kisahnya tentang petualangan Thio Bu Ki, putra dari Thio Cui San, murid kelima Bu Tong Pay dan In So So dari golongan yang dianggap sesat oleh kaum rimba persilatan. Thio Bu Ki menjadi yatim piatu sejak berusia 10 tahun. Dia juga sangat menderita selama bertahun-tahun karena terkena racun dingin akibat pukulan musuh, dan tidak ada yang bisa menyembuhkan sakitnya. Suatu saat, secara kebetulan ia menemukan kitab Kiu Yang Cin Keng, yang konon jika menguasai ilmu itu dapat mengeluarkan racun dingin dari tubuhnya. Setelah bertahun-tahun kitab itu dipelajari, bukan hanya sembuh dari penyakitnya, ia pun memiliki ilmu silat yang sangat tinggi.

Petualangan Bu Ki selanjutnya membawa dia berhubungan dengan orang-orang Bengkauw, yang dianggap sebagai agama sesat di dunia persilatan. Ia juga berhasil mempelajari ilmu Kian kun tay lo i, ilmu tertinggi milik Bengkauw, dalam waktu yang sangat singkat. Keberhasilannya menguasai ilmu tersebut, pertolongannya terhadap Bengkauw, serta keberhasilannya mendamaikan konflik antara Bengkauw dengan enam perguruan silat yang menganggap dirinya beraliran lurus, membuat Bu Ki mendapat kehormatan untuk menjadi ketua atau pemimpin agama sekte sesat itu. Dengan jabatan itu, Bu Ki bersama anggotanya serta para pendekar dari perguruan lain memimpin pemberontakan terhadap dinasti Yuan (Mongol), yang dianggap sebagai penjajah, hingga akhirnya berdiri dinasti baru, yaitu dinasti Beng (Ming).

Novel ini berjudul Golok Pembunuh Naga, tetapi sebenarnya tidak ada naga dalam cerita ini. Golok Pembunuh Naga adalah nama golok pusaka yang menjadi rebutan orang-orang di dunia persilatan dan sudah banyak makan korban jiwa. Konon golok ini memiliki rahasia, dan yang dapat memiliki golok ini akan menjadi penguasa di dunia persilatan. Hanya satu yang dapat menandinginya, yaitu Pedang Langit. Golok akhirnya direbut oleh Cia Sun, yang nantinya menjadi ayah angkat Thio Bu Ki. Tetapi dia tidak bisa menguak rahasia dibalik golok itu, sebaliknya dia malah menjadi buruan orang lain hingga ia harus menyepi di sebuah pulau.

Golok dan pedang pusaka itu sebenarnya warisan dari Kwee Ceng, tokoh utama di serial Sia Tiauw Eng Hiong. Ketika menyadari bahwa dia dan keluarganya tidak akan terlepas dari kematian akibat serbuan tentara Mongol, Kwee Ceng dan istrinya membuat sepasang golok dan pedang pusaka, dengan memasukkan kitab silat sakti (kiu im cin keng) dan ilmu perang kedalam kedua senjata itu. Dengan harapan, suatu saat ada orang gagah yang menggunakan ilmu dalam senjata itu untuk digunakan melawan penjajah.  Puluhan tahun kemudian golok itu menjadi rebutan, tetapi tidak ada yang mengetahui rahasia dalam kedua senjata itu kecuali yang menjadi ketua dari Go Bi Pay.


0 komentar:

Poskan Komentar