Kamis, 09 Februari 2012

Medali Wasiat

Ciok Boh-thian sendiri pun merasa bingung dan penuh pertanyaan, “Siapakah ayahku? Siapakah ibuku? Siapa pula diriku sendiri?”

Tapi karena Bwe Hong-koh sudah mati membunuh diri, dengan sendirinya pertanyaan-pertanyaan itu tiada seorang pun dapat memberi jawaban. Hanya para pembaca yang cerdik kami yakin telah dapat menduga dan memberi jawaban yang tepat.
Kutipan diatas merupakan ending dari novel silat berjudul Medali Wasiat karya master cerita Silat Chin Yung (Jin Yong). Saya pernah berseloroh, jika ada pertanyaan tentang 'teka teki apakah yang memiliki latar belakang cerita sangat panjang?', mungkin jawabannya novel Medali Wasiat.

Serial ini memiliki banyak judul lain, diantaranya Hap Haak Hang serta Ode to Gallantry. Sedangkan Medali Wasiat yang disadur oleh Gan KL merupakan judul edisi bahasa Indonesianya.

Chin Yung menulis Medali Wasiat sekitar tahun 1965 dan merupakan karyanya yang ke-12. Konon Chin Yung hanya menulis 15 judul cerita silat dalam kurun waktu 1955-1972, terdiri dari 13 novel (12 novel panjang dan 1 novel pendek) dan 2 cerita pendek. Setelah itu dia memutuskan untuk berhenti menulis serial silat setelah menyelesaikan novelnya yang terakhir (Lu Ding Ji) pada 1972. Meski demikian Chin Yung dikabarkan sering juga merevisi ceritanya sendiri, sehingga beberapa karyanya ada yang memiliki versi yang berbeda.

Medali Wasiat mengisahkan petualangan seorang anak gembel atau gelandangan yang oleh "ibunya" dinamai dengan Kau Cap Ceng yang berarti anak anjing. Secara tidak sengaja dia menemukan sebuah medali didalam kue yang ditemuinya. Medali itu diperebutkan oleh banyak orang, karena konon pemilik aslinya akan mengabulkan permintaan apapun dari orang yang bisa mengembalikan medali tersebut.

Berawal dari penemuannya itu, yang ia sendiri tidak tahu kegunaannya, membuatnya harus menghadapi berbagai masalah. Masalah semakin bertambah ketika ia disangka sebagai orang yang mirip dengannya. Sehingga dengan terpaksa dia harus berperan sebagai orang lain yang meski wajah dan bentuk tubuhnya sangat mirip tetapi sifatnya berlainan. Tetapi tiap kesulitan yang ia hadapi akhirnya selalu membawa keberuntungan baginya hingga puncaknya dia berhasil menjadi ahli silat nomer satu di dunia.

Karakter tokoh utama yang dibuat Chin Yung dalam novel ini digambarkan sebagai orang yang lugu serta polos. Tetapi tidak seperti Kwee Ceng dalam The Legend of Condor Heroes, Kau Cap Ceng otaknya termasuk cerdas. Hanya saja sejak kecil dia tinggal di gunung bersama "ibunya" (yang sebenarnya bukan orang tuanya tetapi musuh dari orang tua aslinya) dan jarang sekali berhubungan dengan orang lain. Akibatnya, dia menjadi orang dusun yang tidak mengenal etika dan watak orang dalam pergaulan terutama di dunia persilatan.

Ketika pertama kali membaca Medali Wasiat saya tidak terlalu antusias mengikuti ceritanya, dan tidak menganggapnya istimewa dibanding karya Chin Yung lainnya. Tetapi belum lama ini saya baca ulang, ternyata banyak hal menarik yang tidak dirasakan sebelumnya. Terutama ketika menikmati karakter Kau Cap Ceng. Keluguannya, membuat ucapannya sering disalahpahami oleh orang lain. Namun karena itu juga banyak terjadi adegan lucu, yang membuat kisah ini semakin asyik dinikmati.


0 komentar:

Posting Komentar