Minggu, 09 Mei 2010

Belajar dari Kwee Ceng

Bagi penggemar cerita silat atau cersil, terutama cerita silat Cina, nama Kwee Ceng (Guo Jing) bukan nama yang asing. Kwee Ceng adalah tokoh utama dalam kisah Sia Tiau Eng Hiong (Pendekar Pemanah Rajawali), kisah pertama dalam trilogi rajawalinya Chin Yung. Nama Kwee Ceng juga banyak disebut dalam Sin Tiau Hiap Lu (Kembalinya Pendekar Rajawali), yang merupakan lanjutan dari buku pertama tadi.

Sebagaimana biasanya, seorang tokoh utama selalu digambarkan sebagai orang yang hebat, terutama dalam ilmu silat. Demikian juga dengan Kwee Ceng. Dengan hanya menguasai ilmu silat Hang Liong Sip Pat Ciang (18 Jurus Menaklukan Naga) dan Kiu Im Cing Keng (Kitab Sembilan Bulan), Kwee Ceng menjadi pendekar muda yang disegani baik. Dengan kehebatan ilmunya itu dia akhirnya dinobatkan sebagai salah satu dari lima jagoan besar dengan julukan Pendekar Utara menggantikan gurunya Pengemis Utara.

Pada umumnya juga, tokoh utama biasanya adalah orang yang memiliki kemampuan otak diatas rata-rata. Thio Bu Ki, Yo ko, atau Siau Hi Ji, adalah contoh diantara tokoh-tokoh silat yang sangat cerdas. Mereka mampu menghapal jurus-jurus silat dengan sangat cepat, bahkan dengan satu atau dua kali melihat. Adapun Siau Hi Ji, tokoh dalam Pendekar Binal karya Gu Long, bahkan lebih banyak mengandalkan kemampuan otaknya dalam menghindari musuhnya, dibanding dengan kepandaian silatnya.

Lain halnya dengan Kwee Ceng. Kwee Ceng ternyata bukanlah orang yang cerdas. Malah bisa dibilang sangat bodoh. Otaknya sangat lamban dalam memahami sesuatu, sangat kontras dengan istrinya yang dikenal luar biasa cerdas, dan tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan kecerdasan istrinya. Untuk menguasai sebuah jurus saja, dia harus berjuang dengan susah payah agar dapat berhasil. Ketika menghapal Kitab Sembilan Bulan, Kwee Ceng harus mengulang-ulang sampai puluhan kali hingga hapal.

Tokoh Kwee Ceng, meskipun hanya ada dalam dunia dongeng, bisa menjadi teladan. Dalam arti, Kwee Ceng memberikan pelajaran tentang ketekunan, kerja keras, pantang menyerah dalam belajar. Kekurangan bukanlah halangan untuk berhasil jika memang sudah memiliki kemauan untuk itu. Yang penting adalah ketekunan. Bukankah Allah sendiri lebih menghargai usaha yang kita lakukan dibanding dengan hasil.

Jadi ingat sebuah kisah. Konon, seorang ulama besar bernama Ibnu Hajar al-Atsqolani, penyusun Kitab Bulughul Maram serta Fathul Baari, pada mulanya sangat susah dalam menghapalkan ayat al-Quran. Di tengah keputusasaannya, beliau memperhatikan sebuah batu yang sudah berlubang akibat tetesan air yang terjadi secara terus menerus. Beliau berpikir, bahwa air saja yang mempunyai sifat sangat lembut mampu membuat batu yang sangat keras menjadi rusak jika dilakukan terus menerus. Maka beliau kembali belajar dengan tekun yang kemudian menjadikannya sebagai seorang ulama yang dapat memberikan karya yang sangat bermanfaat.

3 komentar:

IHSAN mengatakan...

kata orang, potensi hanya 1% dari kesuksesan seseorang sisanya kerja keras, einstein juga bilang gitu :D

agung aritanto mengatakan...

lebih suka kung fu

tiar mengatakan...

kwee ceng ternyata merupakan tokoh nyata lho.
tapi masalah kungfunya.. itu tambahan.

Posting Komentar