Salah satu hobi lamaku adalah mengoleksi buku-buku elektronik (e-book) dalam komputer. Temanya beragam, mulai dari novel, tjersil, buku-buku Islam, buku-buku catur, dan sebagainya, bahkan kitab-kitab turats (kitab kuning). Buku-buku tersebut saya dapatkan dari teman, hasil mendownload dari berbagai website, atau hasil “mencuri” dari komputer orang yang biasanya saya dapatkan di warnet-warnet. Namun, bukan berarti buku-buku tersebut telah tamat saya baca. Dari sekian banyak ebook, masih banyak yang belum dibaca, apalagi jika tulisannya tersaji dalam bahasa asing. Bahkan, bukan hanya tidak dibaca, banyak juga file yang dibukapun tidak pernah. Rasanya jika saya termasuk orang yang memiliki banyak uang, bukan hanya ebook yang saya koleksi, tapi juga buku-buku dari bahan kertas.
Perilaku saya diatas mengingatkan saya dengan istilah biblioholik. Biblioholik adalah orang yang mengagumi buku secara berlebihan, sebagaimana istilah alhokolik, orang yang kecanduan alkohol. Orang yang cinta buku belum tentu sama dengan orang yang cinta baca. Orang yang cinta baca selalu membaca buku yang dimilikinya. Selain itu dia berusaha membaca buku yang tidak dia punyai, baik dengan meminjam, membaca di perpustakaan, atau di toko buku. Berbicara tentang kegiatan membaca di toko buku, jadi ingat cerita seorang teman bahwa konon ada seorang dosen yang ketika masih menjadi mahasiswa, untuk keperluan thesisnya, sangat rajin pergi ke toko buku, hanya untuk membaca dan bukan membeli. Sampai-sampai satpam di toko buku tersebut hapal dan mungkin jengkel karena dia memang tidak pernah membeli.
Sedangkan orang yang cinta buku, lebih tepatnya gila buku, sangat senang mengoleksi berbagai jenis buku tetapi belum tentu buku-buku tersebut dibaca. Bahkan ada yang sampulnya pun belum pernah dibuka. Dalam bukunya Putut Wijdjanarko, Elegi Gutenberg, yang kemungkinan hasil kutipan lagi dari buku Biblioholism, The Literary Addiction, banyak contoh tentang orang-orang seperti ini. Misalnya seorang ahli hukum asal Perancis pada abad ke-18, Boulard, sangat bernafsu membeli buku, sampai-sampai dia harus membeli enam rumah lagi untuk menyimpan buku-bukunya itu. Sampai meninggalnya, koleksinya mencapai sekitar 600 ribu sampai 800 ribuan jilid buku. Tapi, dia tidak membaca buku yang dia beli. Ada lagi Richard Reber, asal Inggris yang hidup pada abad ke-19. Koleksinya mencapai 200 ribu sampai 300 ribuan buku. Bedanya, dia selalu membaca buku-bukunya.
Umumnya minat seseorang terhadap buku selalu diiringi dengan kebiasaan membacanya yang tinggi. Karena itu seorang yang rajin membaca sering disebut kutu buku. Meskipun demikian tidak selalu orang membeli buku untuk dibaca. Jika hanya untuk koleksi, barangkali orang jenis ini sangat sedikit. Yang paling banyak adalah orang yang membeli buku hanya untuk pajangan di lemari buku, apalagi jika lemari bukunya disimpan di ruang tamu. Bisa hanya untuk pamer, bahwa dia memiliki buku yang susah didapat. Atau karena dia ingin disebut rajin membaca. Perilaku jenis ini sering disebut dengan istilah biblionarsisis. Ada lagi pikiran aneh dari seorang penggila buku. Untuk menjaga agar bukunya tetap awet, tidak mudah rusak, maka sebaiknya bukunya itu disimpan di rak, tidak usah dibaca apalagi dipinjamkan. :D
2 komentar:
Saya juga suka baca ni, udah banyak buku, tapi saya cenderung membaca yang saya suka aja. Jangan sampe deh punya buku, tapi nggak dibaca....Kasih saya aja, insya Allah saya baca :)
Janganlah berlebihan dalam menyukai sesuatu....
Poskan Komentar